Breaking News

Jalan Lampung Selatan Menuju Raden Intan Rusak Parah

Lampung bersinar.com ----
Lampung selatan, Sungguh menyayat hati warga dusun puloraya dan desa branti pembangunan kembali terpampang nyata di Kabupaten Lampung Selatan. Di balik megahnya Bandara Internasional Radin Inten II, terdapat jalan penghubung vital antara Dusun Puloraya, Kelurahan Haduyang, Kecamatan Natar, menuju Desa Branti yang hingga kini tak lebih dari hamparan tanah merah Tgl 27/12/2025/.


Fakta mencengangkan, sejak zaman penjajahan hingga Indonesia merdeka, akses jalan tersebut tak pernah benar-benar dibangun. Berganti rezim, berganti bupati, namun kondisi jalan tetap sama: rusak, berlumpur, dan menyulitkan warga.

Saat musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan licin yang rawan kecelakaan. Sebaliknya, di musim kemarau, debu tebal menyelimuti pemukiman dan lahan pertanian warga. Jalan yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi justru menjadi simbol ketimpangan pembangunan.

“Kami seperti tidak dilihat oleh pemerintah Lampung selatan. Padahal jaraknya dekat dengan bandara, tapi jalannya seperti di pelosok terpencil,” ujar warga dengan nada kecewa.

Lebih ironis lagi, jalan tersebut rutin dilintasi truk-truk besar pengangkut tanah hasil dari perbukitan Gunung Branti. Beban kendaraan berat memperparah kerusakan jalan, sementara pemerintah terkesan membiarkan tanpa pengawasan maupun kontribusi perbaikan dari para penambang.

Warga menilai, keberadaan aktivitas tambang justru lebih diprioritaskan ketimbang keselamatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Jalan yang rusak bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mempersulit warga dalam mencari nafkah, mengangkut hasil pertanian, hingga akses pendidikan dan kesehatan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: di mana peran pemerintah daerah? Mengapa jalan strategis yang berada di kawasan penyangga bandara internasional dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun?

Masyarakat Puloraya dan Branti mendesak Bupati Lampung Selatan, DPRD, serta instansi terkait untuk segera turun langsung ke lapangan. Mereka meminta pembangunan jalan permanen dan penertiban mobil mobil pengangkut tanah aktivitas yang dinilai memperparah kerusakan.

“Kalau tidak diperbaiki, ini bukti nyata pembangunan hanya slogan,” tegas warga. 
( Cipto)
© Copyright 2022 - Lampung Bersinar